Cara Menghitung Frequency Rate dan Severity Rate K3
Frequency Rate (FR) dihitung dengan rumus: jumlah kecelakaan yang menyebabkan hilangnya hari kerja dikali 1.000.000, dibagi total jam kerja orang. Untuk bengkel 40 orang dengan dua kecelakaan setahun, angkanya keluar di kisaran 25. Severity Rate (SR) memakai rumus yang sama, hanya pembilangnya diganti jumlah hari kerja yang hilang.
Angka ini yang dipakai perusahaan untuk membandingkan kinerja K3-nya dari tahun ke tahun dan dengan industri sejenis — karena jumlah kecelakaan mentah tidak bisa dibandingkan antara bengkel 15 orang dan bengkel 400 orang.
Angka di papan hanya berguna kalau orang yang membacanya tahu rumus di baliknya.
Kenapa Kecelakaan Harus Dicatat Lebih Dulu
Statistik K3 tidak bisa dihitung dari ingatan. Harus ada catatan, dan catatannya harus konsisten.
Di sistem Amerika, pencatatan itu memakai tiga formulir yang saling terkait:
| Formulir | Fungsi | Catatan |
|---|---|---|
| OSHA 300 | Log tahunan seluruh cedera dan penyakit akibat kerja | Diisi sepanjang tahun berjalan |
| OSHA 300A | Ringkasan tahunan | Dipasang di tempat kerja antara Februari dan April |
| OSHA 301 | Laporan detail setiap kejadian | Satu formulir per kejadian |
Menurut modul, catatan ini disimpan lima tahun ditambah tahun berjalan, dan kewajiban pencatatan berlaku bagi pemberi kerja dengan rata-rata 10 pekerja atau lebih.
Indonesia memakai jalur yang berbeda tapi tujuannya sama. Permenaker No. 03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan mewajibkan pengurus melaporkan tiga kelompok kejadian: kecelakaan kerja, kebakaran atau peledakan atau bahaya pembuangan limbah, dan kejadian berbahaya lainnya. Batas waktunya 2x24 jam sejak kejadian, memakai formulir Bentuk 3 KK2 A, dan ditujukan ke kantor ketenagakerjaan setempat. Laporan lisan boleh disampaikan lebih dulu, tetapi tidak menggantikan laporan tertulisnya.
Di samping itu ada jalur jaminan: pelaporan kecelakaan kerja ke BPJS Ketenagakerjaan untuk klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Dua jalur ini berjalan paralel dan sama-sama wajib — satu untuk pengawasan, satu untuk manfaat bagi pekerjanya.
Dasarnya ada di undang-undang. UU No. 1 Tahun 1970 Pasal 11 ayat (1) mewajibkan pengurus melaporkan setiap kecelakaan yang terjadi di tempat kerjanya kepada pejabat yang ditunjuk Menteri Tenaga Kerja. Jadi pencatatan bukan praktik tambahan, melainkan kewajiban hukum yang usianya sama dengan undang-undangnya.
Rumus Statistik K3
| Indikator | Rumus | Basis | Yang diukur |
|---|---|---|---|
| Frequency Rate (FR) | (jumlah kecelakaan hilang hari kerja × 1.000.000) ÷ jam kerja orang | 1.000.000 | Seberapa sering kecelakaan terjadi |
| Severity Rate (SR) | (jumlah hari kerja hilang × 1.000.000) ÷ jam kerja orang | 1.000.000 | Seberapa parah akibatnya |
| LTIFR | (jumlah lost time injury × 1.000.000) ÷ jam kerja orang | 1.000.000 | Sama dengan FR, istilah yang lebih umum dipakai industri |
| TRIR (versi OSHA) | (total kasus tercatat × 200.000) ÷ jam kerja orang | 200.000 | Semua kasus tercatat, bukan hanya yang hilang hari kerja |
Dua basis angka itu sering bikin bingung, padahal logikanya sederhana:
- 1.000.000 jam kira-kira setara dengan 500 pekerja yang bekerja setahun penuh. Basis ini dipakai standar internasional dan yang paling umum di Indonesia.
- 200.000 jam setara dengan 100 pekerja × 40 jam seminggu × 50 minggu. Inilah basis yang dipakai OSHA, sehingga TRIR bisa dibaca sebagai "berapa kasus per 100 pekerja per tahun".
Jam kerja orang adalah total jam yang benar-benar dikerjakan seluruh pekerja dalam periode itu, termasuk lembur, tidak termasuk cuti dan libur. Angka inilah yang paling sering salah dihitung, dan satu kesalahan di sini merusak seluruh statistiknya.
Contoh Hitungan: Bengkel Motor Listrik 40 Orang
Semua angka berikut adalah contoh ilustrasi, bukan data perusahaan. Asumsinya: 40 pekerja, 8 jam per hari, 250 hari kerja setahun, tanpa lembur.
Langkah 1 — Hitung total jam kerja orang
40 orang × 8 jam × 250 hari = 80.000 jam kerja orang
Langkah 2 — Kumpulkan data kejadian setahun
| Data | Jumlah |
|---|---|
| Kecelakaan dengan hilang hari kerja (lost time injury) | 2 kasus |
| Kasus yang butuh perawatan medis tanpa hilang hari kerja | 1 kasus |
| Total kasus tercatat | 3 kasus |
| Total hari kerja hilang | 15 hari |
Langkah 3 — Hitung Frequency Rate
FR = (2 × 1.000.000) ÷ 80.000 = 25
Artinya: 25 kecelakaan dengan hilang hari kerja per satu juta jam kerja.
Langkah 4 — Hitung Severity Rate
SR = (15 × 1.000.000) ÷ 80.000 = 187,5
Artinya: 187,5 hari kerja hilang per satu juta jam kerja.
Langkah 5 — Hitung TRIR versi OSHA
TRIR = (3 × 200.000) ÷ 80.000 = 7,5
Artinya: 7,5 kasus tercatat per 100 pekerja per tahun.
Langkah 6 — Konversi hari hilang menjadi rupiah
Ini langkah yang paling sering dilewati, padahal paling efektif saat presentasi ke manajemen. Asumsi upah Rp 35.000 per jam, 8 jam per hari:
| Komponen | Perhitungan | Nilai |
|---|---|---|
| Upah 15 hari kerja hilang | 15 × 8 × Rp 35.000 | Rp 4.200.000 |
| Penggantian tenaga dan lembur rekan | 15 hari × 4 jam × Rp 52.500 (1,5×) | Rp 3.150.000 |
| Investigasi 2 kejadian | 2 × 2 orang × 6 jam × Rp 50.000 | Rp 1.200.000 |
| Perbaikan alat dan prosedur | Paket | Rp 2.000.000 |
| Total perkiraan setahun | Rp 10.550.000 |
Satu angka FR = 25 terdengar abstrak. Rp 10,5 juta per tahun untuk bengkel 40 orang jauh lebih mudah dibawa ke rapat anggaran — dan itu baru biaya yang terlihat.
Langkah 7 — Bandingkan dengan periode sebelumnya
Angka tunggal tidak bermakna. Yang bermakna adalah arah tren: FR tahun ini dibanding tahun lalu, dengan basis jam kerja yang dihitung dengan cara yang sama persis.
Dua rumus ini berbagi penyebut yang sama; yang berbeda hanya apa yang dihitung di pembilangnya.
Cara Membaca Angkanya Tanpa Tertipu
Ini bagian yang paling sering salah dipakai di rapat bulanan.
FR turun belum tentu berarti lebih aman. Angka FR bisa turun karena tiga sebab yang sangat berbeda: kondisi memang membaik, jam kerja naik sementara jumlah kecelakaan tetap, atau kejadian tidak dilaporkan. Sebab ketiga ini yang paling berbahaya, karena biasanya muncul justru setelah manajemen memasang target FR dan mengaitkannya dengan insentif.
FR dan SR harus dibaca berpasangan. FR rendah dengan SR tinggi berarti jarang terjadi tapi sekali terjadi akibatnya berat — pola yang khas untuk pekerjaan dengan energi besar seperti pengangkatan rotor atau pengujian motor bertegangan. FR tinggi dengan SR rendah berarti banyak kejadian kecil yang berulang, biasanya soal housekeeping dan perkakas.
Angka kecil di dasar piramida kecelakaan tidak masuk FR. Nyaris celaka dan kerusakan properti tanpa cedera tidak muncul di statistik mana pun, padahal justru di situ peringatan paling awal berada.
Jangan membandingkan angka dengan basis berbeda. FR dengan basis 1.000.000 dan TRIR dengan basis 200.000 menghasilkan angka yang berbeda lima kali lipat untuk kejadian yang sama. Selalu sebutkan basisnya saat melaporkan.
Leading vs Lagging Indicator
FR, SR, LTIFR, dan TRIR semuanya lagging indicator — mengukur sesuatu yang sudah terjadi. Berguna untuk evaluasi, tidak berguna untuk pencegahan, karena angkanya baru bergerak setelah ada yang cedera.
Leading indicator mengukur kegiatan pencegahan, dan inilah yang bisa dikendalikan dari minggu ke minggu:
| Leading indicator | Cara mengukurnya di bengkel |
|---|---|
| Laporan nyaris celaka | Jumlah laporan per bulan; naik justru pertanda bagus |
| Inspeksi K3 terjadwal | Jumlah inspeksi terlaksana dibanding yang direncanakan |
| Temuan yang ditutup | Persentase temuan yang selesai diperbaiki tepat waktu |
| Jam pelatihan K3 | Jam pelatihan per pekerja per tahun |
| Kepatuhan riksa uji | Persentase crane, bejana tekan, dan instalasi listrik yang sertifikatnya masih berlaku |
| Toolbox meeting | Jumlah sesi dan tingkat kehadiran |
Bengkel yang hanya memantau FR akan selalu bereaksi setelah kejadian. Bengkel yang juga memantau enam angka di atas punya sesuatu untuk diperbaiki sebelum kejadian.
⚠️ Peringatan: jangan pernah mengaitkan bonus atau penilaian kinerja langsung dengan angka FR atau jumlah hari tanpa kecelakaan. Insentif seperti itu menekan pelaporan, bukan menekan kecelakaan — dan bengkel kehilangan satu-satunya peringatan dini yang dimilikinya.
Sudut Pandang Workshop
Yang pertama saya cek saat melihat FR sebuah periode bukan angkanya, tapi jumlah laporan nyaris celaka di periode yang sama. Kalau FR nol dan laporan nyaris celaka juga nol, itu bukan periode yang aman — itu periode yang tidak ada yang melapor.
Hal kedua: pastikan jam kerja orang dihitung dari data absensi, bukan dari perkalian kasar jumlah karyawan. Lembur, cuti panjang, dan pekerja borongan membuat selisihnya cukup besar untuk mengubah kesimpulan.
Satu titik tidak berarti apa-apa; yang dibaca adalah arah garisnya sepanjang tahun.
Baca Juga
- Investigasi Kecelakaan Kerja: Cari Fakta, Bukan Kesalahan — sumber data yang mengisi statistik ini
- 9 Jenis Kecelakaan Kerja dan Contohnya di Bengkel — klasifikasi kejadian sebelum dihitung
- Dasar K3 Bengkel: Bahaya, Kecelakaan, dan Tanggung Jawabnya — pilar seri Motor Academy Lesson 01
- Program K3 Perusahaan: P2K3, Induksi Pekerja Baru, dan Training Wajib — tempat angka ini dibahas setiap bulan
- Unsafe Action vs Unsafe Condition: Contoh dan Bedanya — isi laporan nyaris celaka
- UU K3 Indonesia vs OSHA Amerika: Sama-sama Lahir 1970 — dasar hukum kewajiban pelaporan
- Tanggap Darurat di Tempat Kerja: P3K, APAR, dan Evakuasi — penanganan sebelum kejadian jadi angka
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa rumus frequency rate K3?
Frequency Rate dihitung dengan membagi jumlah kecelakaan yang menyebabkan hilangnya hari kerja dikali 1.000.000 dengan total jam kerja orang pada periode yang sama. Hasilnya menunjukkan berapa kecelakaan terjadi per satu juta jam kerja.
Apa beda Frequency Rate dan Severity Rate?
Frequency Rate mengukur seberapa sering kecelakaan terjadi, dengan pembilang berupa jumlah kasus. Severity Rate mengukur seberapa parah akibatnya, dengan pembilang berupa jumlah hari kerja yang hilang. Keduanya memakai penyebut yang sama, yaitu total jam kerja orang dikali basis 1.000.000.
Apa itu TRIR dan kenapa basisnya 200.000?
TRIR adalah Total Recordable Incident Rate, yaitu jumlah seluruh kasus tercatat dikali 200.000 dibagi jam kerja orang. Basis 200.000 berasal dari asumsi 100 pekerja yang bekerja 40 jam seminggu selama 50 minggu, sehingga hasilnya bisa dibaca sebagai jumlah kasus per 100 pekerja per tahun.
Berapa nilai FR yang dianggap baik?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku universal, karena nilai pembanding berbeda antarindustri dan antarnegara. Yang lebih berguna adalah membandingkan FR perusahaan dengan periode sebelumnya menggunakan cara perhitungan yang sama, dan membacanya bersama Severity Rate serta jumlah laporan nyaris celaka.
Berapa batas waktu pelaporan kecelakaan kerja di Indonesia?
Permenaker No. 03/MEN/1998 mewajibkan laporan tertulis disampaikan paling lambat 2x24 jam sejak kejadian, memakai formulir Bentuk 3 KK2 A, dan ditujukan ke kantor ketenagakerjaan setempat. Laporan lisan boleh disampaikan lebih dulu tetapi tidak menggantikan laporan tertulis.
Kesimpulan
FR dan SR adalah dua angka yang sama rumusnya dan berbeda maknanya: yang satu menghitung seberapa sering, yang lain seberapa parah. Hitung keduanya dari jam kerja orang yang diambil dari data absensi, laporkan selalu dengan menyebutkan basisnya, dan jangan pernah membacanya tanpa melihat jumlah laporan nyaris celaka di periode yang sama. Lagging indicator memberi nilai rapor; yang menaikkan nilainya adalah leading indicator.
Sumber
- UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pasal 11 — JDIH Kementerian Ketenagakerjaan
- Permenaker No. 03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan
- Data kasus kecelakaan kerja 2025 — Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan
- EASA Vo-Tech Vol. 1 Safety — TPC Training Course 109, Lesson 2: Government Regulations



Posting Komentar untuk "Cara Menghitung Frequency Rate dan Severity Rate K3"
Posting Komentar
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!