Memahami cara membaca name plate motor listrik sangat penting untuk memastikan instalasi dan operasional motor yang tepat dan efisien. Name plate motor berisi informasi vital seperti daya, tegangan, arus, dan kecepatan, yang diperlukan untuk memilih motor listrik sesuai kebutuhan aplikasi. Artikel ini memberikan panduan lengkap tentang cara membaca dan memahami name plate motor, sehingga Anda dapat mengoptimalkan kinerja motor listrik dan menghindari kesalahan instalasi. Pelajari lebih lanjut untuk memastikan motor listrik Anda bekerja dengan aman dan efisien.
Pada setiap motor listrik biasanya selalu ditemukan name plate yang berisi informasi - informasi umum yang penting tentang motor tersebut. Seorang instalatir motor seyogyanya harus tahu bagaimana
cara membaca dan memahami name plate motor tersebut sehingga motor bisa bekerja sebagaimana mestinya sesuai name plate yang telah diberikan produsen motor tersebut. Dengan memahami name plate ini merupakan langkah awal bagi anda untuk lebih paham lagi dalam
memahami hubungan belitan motor 3 phasa yang saya bahas diartikel berikutnya.
Ada banyak informasi yang disajikan dari nameplate tersebut, mulai dari sisi elektrik, kinerja, kontruksi, kehandalan, dan lain-lain. Setidaknya dari banyak informasi yang disediakan, ada beberapa informasi yang wajib kita ketahui.
 |
| Contoh name plate motor listrik |
Berikut ini saya ulas tentang name plate motor sesuai dengan nomor yang sudah saya tandai pada gambar diatas :
Ringkasan 9 Data Wajib di Name Plate
Sebelum masuk ke penjelasan satu per satu, berikut rangkuman apa yang harus Anda cari di name plate dan untuk apa angka itu dipakai:
| Data | Simbol umum | Dipakai untuk |
|---|
| Jumlah fasa | 3 ~ atau 1 ~ | Menentukan sumber dan jenis instalasi |
| Frekuensi | Hz | Memastikan cocok dengan sumber (50 Hz di Indonesia) |
| Daya output | kW atau HP | Memilih motor sesuai beban (1 HP = 746 W) |
| Tegangan kerja | U atau V | Menentukan hubungan belitan bintang atau delta |
| Arus nominal | I, I 1/1, Imax | Menentukan ukuran kabel dan setelan proteksi |
| Faktor daya | cos φ | Menghitung daya semu dan kompensasi kapasitor |
| Efisiensi | η atau % | Menghitung daya input yang diserap dari jaringan |
| Putaran | rpm atau min⁻¹ | Mencocokkan dengan kebutuhan mekanik beban |
| Kelas isolasi | A, E, B, F, H | Batas suhu belitan yang masih aman |
1. Phase
simbol angka 3 dan gelombang sinus sebagaimana tertera di gambar name plate motor diatas adalah menandakan bahwa motor tersebut merupakan motor 3 phasa, maka instalasinya pun harus memakai sumber 3 phasa. Standar untuk penamaan ini biasanya antara 1 phasa atau 3 phasa berdasarkan jenis motornya.
2. Frekuensi
Merupakan besaran frekuensi yang harus diterima motor agar motor berputar dengan jumlah putaran sesuai name plate nya. Frekuensi masukan untuk motor pada umumnya adalah 50 Hz dan 60 Hz. Jika mempunyai variable frekuensi pada name plate harus tertulis juga. Untuk name plate motor diatas menggunakan frekuensi sumber 50 Hz. Untuk standar sumber yang ada di Indonesia angka 50 Hz sudah memenuhi.
3. Daya
Menunjukan besarnya Output daya motor dalam satuan kW ( kilo Watt ), pada motor lain terdapat juga satuan daya HP ( Horse Power ). Jika anda menemukan satuan daya dalam HP, anda tidak perlu bingung, silahkan konversikan satuan HP tersebut kedalam Watt, dimana konversi 1 HP = 746 Watt. Name plate motor diatas menunjukan besarnya Output daya motor = 1,50 kW. Adapun besarnya input daya yang dibutuhkan bisa mengacu pada besarnya effisiensi motor.
Effisiensi motor = (Pout / P in) * 100%
Pin = Pout * 100 / Effisiensi motor
jadi berdasarkan name plate motor diatas P in = 1,5 kW * 100 / 82 = 1,8 kW ; Ini menandakan bahwa daya yang diserap tidak seluruhnya dikonversi menjadi energi mekanik, ada rugi2 daya motor seperti panas dan lain-lain.
4. Tegangan kerja motor
Dilambangkan dengan simbol U atau pada name plate lain sudah dilambangkan dalam simbol V. Nilai tegangan pada name plate ini menunjukan tegangan kerja motor untuk bisa beroperasi normal. Jika tegangan kerja tersebut tidak terpenuhi maka kinerja motor akan terpengaruh. Karena name plate motor tersebut untuk sistem 3 phase, maka penunjukan tegangan yang tertera merupakan tegangan sumber line to line ( VLL ) bukan line to netral (VLN) yang besarnya menyesuaikan berdasarkan hubungan belitan motor ketika diinstalasi. Nilai V hubungan delta berbeda dengan V hubungan bintang. Sangat penting mengetahui parameter tegangan ini sebagai acuan anda menentukan hubungan belitan apa yang akan diinstalasi pada motor disesuaikan antara name plate tegangan dengan tegangan sumber yang ada. Ketidaksesuaian penyambungan belitan motor terhadap tegangan sumber bisa mempengaruhi kinerja motor bahkan bisa menyebabkan motor terbakar. Adapun cara memahami hubungan belitan motor yang disesuaikan terhadap tegangan sumber saya jelaskan lebih rinci diartikel "
Cara Memahami Konsep Hubunga Belitan Motor 3 Phasa"
5. Arus
Menunjukan besarnya arus nominal saat motor bekerja pada beban penuh. Parameter arus ini penting untuk diketahui sebagai acuan untuk pemilihan jenis dan besar kabel untuk instalasi motor dan juga untuk penentuan proteksi motor. Pada name plate diatas terdapat 2 parameter arus dimana I 1/1 menunjukan arus nominal saat motor bekerja beban penuh, dan Imax merupakan batas arus maximal yang bisa diterima motor. Jika arus motor melebihi batas I max maka kinerja motor akan terpengaruhi bahkan motor tersebut bisa rusak atau terbakar.
6. Power Factor / cos phi
Power factor atau cos phi yang tertulis pada name plate merupakan power factor yang didapat pada test motor pada beban penuh. besarnya power factor akan berubah sesuai dengan berapa persen motor tersebut memikul beban. semakin tinggi persen beban yang dipikul motor maka semakin tinggi pula persen power factor yang dihasilkan.
7. Effisiensi
Menunjukkan nilai perbandingan antara daya output terhadap daya input, dinyatakan dalam persen. Secara tidak langsung effisiensi menunjukan besarnya rugi - rugi motor yang tidak bisa dikonversikan dalam bentuk energi mekanik. Penjelasan singkatnya ada lihat poin 3 tentang daya.
8. Putaran per menit atau Rpm
Menunjukan jumlah putara motor permenit pada saat motor bekerja normal. Ini juga merupakan batas max putaran yang diijinkan untuk motor. Jumlah putaran ini dipengaruhi langsung oleh jumlah kutub dan frekuensi. Karena jumlah kutub tetap sesuai desain motor maka putaran motor akan berubah sesuai dengan besarnya frekuensi. Putaran yang tertera di name plate adalah nilai yang bisa dicapai saat motor dihubungkan pada besaran frekuensi sesuai name plate juga.
putaran motor ( n ) = 120 * f / p
dimana n = putaran motor (Rpm)
f = frekuensi sumber (Hz)
p = jumlah kutub motor
Karena jumlah kutub sudah tetap dari pabrik, putaran sinkron motor pada jaringan 50 Hz hanya punya beberapa kemungkinan saja:
| Jumlah kutub | Putaran sinkron (50 Hz) | Putaran beban penuh tipikal | Putaran sinkron (60 Hz) |
|---|
| 2 | 3.000 rpm | ±2.900 rpm | 3.600 rpm |
| 4 | 1.500 rpm | ±1.450 rpm | 1.800 rpm |
| 6 | 1.000 rpm | ±960 rpm | 1.200 rpm |
| 8 | 750 rpm | ±720 rpm | 900 rpm |
| 10 | 600 rpm | ±580 rpm | 720 rpm |
| 12 | 500 rpm | ±480 rpm | 600 rpm |
Putaran beban penuh selalu sedikit di bawah putaran sinkron. Selisih itulah yang disebut slip, umumnya 2–5% pada motor induksi. Kalau name plate menulis 1.450 rpm, berarti motor itu bermotor 4 kutub — bukan berarti ada yang tidak beres.
9. Kelas Isolasi
Menunjukan klasifikasi standar toleransi thermal dari isolasi belitan motor. Kelas isolasi menunjukan kemampuan isolasi belitan bertahan pada suhu operasi tertentu. Urutannya tidak mengikuti abjad, jadi jangan menebak dari hurufnya saja — kelas B justru lebih tinggi daripada kelas E meski hurufnya lebih awal.
| Kelas isolasi | Batas suhu belitan |
|---|
| A | 105 °C |
| E | 120 °C |
| B | 130 °C |
| F | 155 °C |
| H | 180 °C |
Angka di atas adalah batas suhu total belitan menurut IEC 60034-1, bukan suhu ruangan. Melewatinya tidak langsung membakar motor, tetapi memangkas umur isolasi dengan cepat — patokan lapangan yang lazim dipakai, setiap kelebihan 10 °C kira-kira memangkas umur isolasi menjadi separuh.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Name plate motor tertulis 380/660 V, artinya apa?
Motor itu bekerja pada 380 V bila belitannya dihubung delta, dan 660 V bila dihubung bintang. Pada jaringan 380 V Indonesia, berarti motor dipasang delta untuk operasi normal — dan inilah motor yang bisa diasut dengan metode star-delta. Rinciannya di meluruskan kekeliruan pembacaan name plate tegangan motor.
Apa beda I 1/1 dengan Imax?
I 1/1 adalah arus nominal saat motor memikul beban penuh, dan itulah angka yang dipakai untuk menentukan ukuran kabel serta setelan overload. Imax adalah batas atas yang masih boleh diterima motor, bukan angka acuan perencanaan.
Daya di name plate itu daya yang diserap dari jaringan?
Bukan. Angka kW di name plate adalah daya keluaran di poros. Daya yang diserap lebih besar, yaitu daya poros dibagi efisiensi. Motor 1,5 kW dengan efisiensi 82% menyerap sekitar 1,8 kW.
Kenapa putaran di name plate 1.450 rpm, bukan 1.500 rpm?
Karena motor induksi selalu berputar sedikit lebih lambat dari putaran sinkron. Selisih itu disebut slip, umumnya 2–5%. Motor 1.450 rpm pada 50 Hz adalah motor 4 kutub.
Bagaimana menentukan ukuran kabel dari arus di name plate?
Ambil arus beban penuh, kalikan 125% sesuai PUIL 2011, lalu cocokkan ke tabel KHA. Langkah lengkapnya ada di cara menentukan luas penampang kabel sesuai PUIL 2011.
Baca juga
Demikianlah artikel tentang cara membaca dan memahami name plate motor yang berisi tentang penjelasan dari beberapa poin yang tertera pada name plate motor. Sebenarnya masih banyak parameter lain dari sebuah name plate motor. 9 poin dalam name plate ini sudah lebih dari cukup untuk tahap awal dalam pemilihan motor dan instalasi motor serta melengkapi proteksinya. Adapun data-data tambahan lainnya yang mungkin anda butuhkan bisa anda lihat pada manual book atau data sheet motor tersebut.
Saran, masukan ataupun koreksi silahkan meninggalkan jejak di kolom komentar.
Wassalam.
31 komentar untuk "Cara Membaca Name Plate Motor Listrik"
IP = Index Protection
angka 5 pertama = casing motor melindungi dari masuknya debu.
angka 5 kedua = casing motor melindungi masuknya air dari segala arah.
Adapun efektif daya motor beroperasi sesuai kebutuhan tetapi tidak boleh melebihi daya yang tertera di name platenya.
Pak untuk motor motor dengan daya 200kW ke atas, apa dampaknya kalo memakai tegangan 380V, apa tidak baiknya memakai medium voltage 6,3kV misalnya
Mohon sarannya,
Barata, Mechanical
terimakasih.
tapi barang yang datang malah 250kW 380V, maksud saya apa dampaknya kalo tidak sesuai spek diatas, mohong sharing pengetahuannya
Adapun untuk konsumsi daya motor sama saja 250kW baik untuk tegangan 380V ataupun 6,3kV, yang jelas instalasi tegangan motor harus mengikuti nameplate motor tsb.
I=P/(akar3*V cos phi) = 11000w/(akar3*380*0.8) = 20A, inilah arus yang dikonsumsi motor ketika operasi yaitu 20A (lebih besar dari 11A)sehingga sering trip adalah wajar.
untuk memasang overload relay dan proteksi lainnya sebaiknya mengikuti aturan PUIL, baca arftikel saya di https://www.listrik-praktis.com/2016/03/cara-menentukan-spesifikasi-komponen-instalasi-motor-listrik.html
Saya masih pemula dlm bidang listrik, saya hendak menanyakan, dalam name plate diatas
kita tahu bahwa Volt 380, beban ampere max 5.9A, dan cos phi adalah 0.85.
ketika saya memasukan Rumus P = 380 volt x 5.9 ampere x 0.85 x 1.73 (akar3), didapat daya sebesar 3296 watt atau 3.2kW, sedangkan motor diatas bertenagakan 2HP / 1.5kw.
apakah ada yg salah dalam pengertian saya ?
mohon petunjuk nya Bpk. Suhinar.
Trimakasih
1. daya 2 HP atau 1,5 KW yang tertera pada motor adalah daya output motor, sedangkan perhitungan yang anda lakukan diatas adalah daya input motor.
Berdasarkan rumus efisiensi motor diatas, dengan daya output 1.5KW akan didapat daya input 1.8 KW
2. Tegangan motor yang anda pakai dalam perhitungan harus sinkron dengan arus yang anda pakai, jika pakai tegangan VLL 380V maka arus yang dipakai adalah arus hubungan bintang yaitu 3.4A, dan jika tegangan yang anda pakai VLL 220V maka arus yang dipakai adalah arus hubungan delta yaitu 5.9A.
Dalam hitungan anda jelas sekali arus dan tegangan dalam perhitungan tidak sinkron sehingga didapatkan hasil yang keliru.
perhitungan yang benar sbb:
P in = akar3 * I * V cos phi
= 1.73 * 3.4A * 380V * 0.85 = 1.899 KW (sesuai)
atau
P in = = akar3 * I * V cos phi
= 1.73 * 5.9A * 220V * 0.85 = 1.908 KW (sesuai)
Jika anda masih keliru dalam memahami pembacaan tegangan nameplate motor, saya rekomendasikan untuk membaca artikel saya yang lain di blog ini yaitu:
https://www.listrik-praktis.com/2015/12/meluruskan-kekeliruan-pembacaan-name-plate-motor3phasa.html
Demikian, semoga membantu...
Terimakasih banyak Bp. Suhinar
Silahkan berkomentar yang sesuai dengan topik, Mohon Maaf komentar dengan nama komentator dan isi komentar yang berbau P*RN*GRAFI, OB*T, H*CK, J*DI dan komentar yang mengandung link aktif, Tidak akan ditampilkan!